Fatimah dan Siti adalah teman satu kelas di SMP 4 semarang,
Semarang. Mereka sama-sama duduk di bangku kelas 9. Fatimah adalah gadis
yang sederhana, ia juga bukan berasal dari kalangan orang kaya, hanya
saja Fatimah sangat pintar sehingga dia dapat masuk di SMP itu dengan
beasiswa. Berbeda dengan Siti , ia gadis yang berasal dari kalangan
keluarga kaya dan elit sehingga ia sangat sombong. Siti juga menjadi
ketua genk “The Cherry Girls” .
Genk itu sangat terkenal dan ditakuti
siswa-siswi di SMP itu. Guru-guru pun tidak berani menegur mereka karena
salah satu dari mereka adalah anak kepala sekolah SMP itu.
Setiap istirahat Siti selalu bersama Rachmah, Sandra dan Aisyah yang
tak lain adalah anggota genk The Cherry Girls. Siti dan genknya sering
menghina dan mengerjai teman-temannya dan adik kelasnya yang mempunyai
keterbatasan biaya. Fatimah sering melihat perlakuan mereka. Fatimah juga
merasa tidak adil dibeda-bedakan dengan cara seperti itu, tetapi dia
juga tidak mungkin marah kepada genk itu.
Fatimah pun mulai berpikir bagaimana caranya agar genk itu mau
mengasihi sesama dengan adil dan tidak membeda-bedakan sesama lagi.
akhirnya setelah beberapa kali Fatimah mengamati, berpikir, dan berdoa,
ia mendapat ide tentang cara menyadarkan Siti dan genknya.
Suatu hari Fatimah pergi ke rumah Siti dengan mobil mewah milik
pamannya. Ia pergi dengan mobil mewah agar Siti dan genknya mau ikut
dengannya. Sesampainya di rumah Siti , Fatimah menekan bel yang berada
pada pagar rumah itu. Siti dan genknya keluar dan mendapati Fatimah
berada di depan rumahya. Siti sempat mengusir Fatimah, tetapi Fatimah
langsung memaksa mereka untuk ikut ke suatu tempat. Fatimah juga sempat
bertengakar dengan Siti dan genknya tetapi akhirnya mereka mengalah dan
kemudian menggikuti Fatimah
Ternyata Fatimah mengajak mereka ke bangunan peninggalan Belanda yang
sangat besar dan tua. Ternyata tempat itu adalah Masjid. Saat Fatimah
mengajak Siti dan genknya masuk, mereka tidak mau. Tetapi Gracia terus
memaksa mereka, dan akhirnya mereka mengalah lagi.
Sesampainya di dalam masjid, Fatimah mengajak mereka ke suatu ruangan.
Di ruangan itu mereka diajak untuk berdoa dan mendengarkan ayat Al-Quran .
Setelah mendengarkan Ayat-ayat suci Al-Quran,pak Kyai yang berada
di dalam ruangan itu mengajak mereka sharing pengalaman. Di dalam
sharing itu, seorang frater mengatakan “Allah mencintai kalian dengan
tulus,Allah tidak pernah membeda-bedakan kalian, Allah tidak peduli
apakah orang itu kaya atau miskin, kalian harusnya bisa seperti Allah
dengan tidak membeda-bedakan sesama”. Kata-kata itu membuat Siti dan
genknya sadar bahwa perlakuan mereka terhadap sesama itu salah.
Sejak saat itu mereka sadar akan kesalahan mereka dan mereka mengubah
sikap mereka yang tadinya pilih-pilih teman menjadi mau berteman dengan
semua orang tanpa pilih kasih, selain itu mereka juga rajin berdoa dan
mendengarkan sabda Tuhan agar hati dan pikiran mereka terbuka.
SELESAI

No comments:
Post a Comment