Saturday, 15 November 2014

Senin Sial

 Tett…
Tett…
Aish. Hey, ayolah, ini bukan saat yang tepat untuk si benda mesin itu berbunyi. Ini masih subuh dan mataku sangat berat untuk terbuka. Bayangkan saja, semua kalangan juga tahu kalau hari ini adalah langganan bagi si virushate monday” datang, dan jangan salahkan aku, aku juga terserang virus itu tiap Senin, dan sekarang si benda bulat berjarum tiga itu masih sanggup bernyanyi dengan rasa tak berdosa, melengkingkan sura aneh itu? Aku benar-benar berharap agar hari Mingguku yang berharaga dapat kembali, lalu aku tetap dapat menggulung diri dalam selimut dan kembali terbang ke alam mimpi. Tapi sekarang itu hanya angan, karena percuma saja aku mengabaikan alaram itu, karena bila tidak bangun segera, alaram lain pasti akan berbunyi. Ya suara ibuku akan menjadi pengganti alaram itu nantinya, jadi lebih baik sekarang aku bangun. Kali ini aku benar-benar bangun, agak terkejut juga karena aku masih punya tenaga untuk tegak dari tempat tidur, padahal otakku sudah berteriak minta tidak bangun, namun badanku justru menentangnya, dan kini aku benar-benar bangun.
Seusai melaksanakan rutinitas pagiku, aku kembali mengecek barang-barang yang akan aku bawa, yang paling penting adalah topi. Aku kembali mengeceknya dan ternyata topi itu masih ada di dalam tas. Sampai saat ini, topi itu belum pernah tesentuh mesin cuci sekalipun, jangankan mesin cuci, air saja tidak pernah. Terserah deh, mau dibilang jorok kek, aku sengaja tetap meletakkannya dalam tas, karena aku adalah orang pelupa. Sebenarnya tidak terlalu pelupa, tapi tetap sajakan. Untuk menjaga-jaga agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
Senin memang hari yang sial, aku sudah memilihnya menjadi hari sial sejak duduk di kelas 2 SMP. Hari ini juga begitu, mengingat dari dati aku terus-terusan menarik oleh-oleh musim hujanku. Aku terkena flu, flu barat. Suaraku sudah seperti orang sumbing, aku bicara seolah-oalh sedang menutup hidung. Awalnya, aku tidak ingin dating ke sekolah, namun saat aku sadar hari ini adalah jadwalnya kuis Matematika, aku harus pergi. Nilai Matematikaku sudah buruk, dan aku tidak mau nilaiku makin anjlok karena aku tidak mengikuti kuis harian Pak Vetras.
“Qil, aku belum belajar matem ha..” aduku pada gadis yang duduk di sampingku. Aqilla Hanif Salsabilla.
Emangnya kau kira aku udah Um? Aku aja nggak masuk do waktu bapak tu jelasin, gara-gara siapin madding untuk lomba” dia menjawab dengan muka kesal serta raut wajah khawatir.
Ndeeh, udah ha, pasrah aja lagi lah” aku menutup percakapan kami dengan melototi catatan matematikaku yang sudah berubah warna di ujungnya akibat terkena tumpahan air.
***
Aku membaringkan tubuhku di atas kasur dengan masih tetap menggunakan pakaian sekolah lengkap. Otakku kembali memutar beberapa kejadian sial yang aku alami hari ini. Pertama, aku harus terus berusaha mencari waktu yang tepat untuk membuang oleh-oleh musim hujanku, hidungku bahakn terasa sangat perih. Kedua, aku benar-benar harus menarik nafas panjang. Nilai kuis Grafik Trigono Matematikaku berada pada posisi ‘68’, apakah nilai itu harus disyukuri? Sepertinya memang iya, setidaknya dia masih berkepala 6, walaupun aku lebih suka apabila dia berkepala 7, dan itu fix, aku akan bertemu wali kelasku lagi hari Jumat nanti. Belum cukup sampai di situ saja, sepulang sekolah aku lewat di dekat Mall SKA, rajanya macet. Aku duduk di jok Honda sambil meratapi lampu lalu lintas yang tetap berwarna merah. Tiba-tiba “Tiiiiiiiiiiiit” wah, suara apa itu? Aku yang sedang melamun sontak kaget mendengar suar aneh itu. Ternyata suaranya berasal dari mobil hitam itu. Aku merutukinya di dalam hati. Aku kembali tenang, lalu tiba-tiba “byurr” hei what the … air coklat itu terciprat di sepatu hitamku, semuanya akibat dari si benda kuning besar itu. Bus Transmetro, apakah dia tahu kalau sepatu ini masih akan ku gunakan lima hari kedepan,,, hmmm..
***

Aku menarik nafas dalam. Kemudian mengeluarkannya secara perlahan. Aku banar-benar berharap beban hari ini akan terangkat semua.

No comments:

Post a Comment

Blue Fire Pointer